kantorbolakantorbolakantorbolakantorbolakantorbola77kantorbola77kantorbola77kantorbola88kantorbola88kantorbola88kantorbola99kantorbola99kantorbola99

Sore: Istri Dari Masa Depan (2025) 8.710

8.710
Trailer

Nonton Film Sore: Istri Dari Masa Depan (2025) Sub Indo | REBAHIN

Nonton Film Sore: Istri Dari Masa Depan (2025) – Ada satu baris dari lagu Glenn Fredly yang terlintas di benak saya saat keluar dari bioskop minggu lalu, yaitu: “Tuhan bila waktu dapat berputar kembali, sekali lagi untuk mencintanya.”

Itulah kata-kata klimaks dalam lagu hits nostalgia Glenn Fredly tahun 2002, Sekali Ini Saja. Dan kata-kata itu juga yang terngiang di benak saya setelah menonton film terbaru Yandy Laurens, Sore: Istri dari Masa Depan.

Pertama dan terpenting, saya ingin mengatakan bahwa film ini tidak hanya menawarkan beberapa jam hiburan, tetapi juga beberapa jam pengalaman yang bermakna — baik untuk hati maupun pikiran.

Seperti semua film yang layak ditonton, Sore melekat di hati Anda. Film ini menggelitik rasa ingin tahu Anda. Film ini menghantui Anda — dalam arti kata yang terbaik — selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan mungkin berminggu-minggu setelah Anda meninggalkan bioskop.

Dibintangi Dion Wiyoko dan Sheila Dara Aisha, Sore bergulat dengan subjek yang intrinsik sekaligus menjengkelkan bagi pengalaman manusia: waktu yang tak dapat diputar balik—sifatnya yang keras kepala untuk terus bergerak maju dengan acuh tak acuh, tanpa ampun, betapa pun tragisnya jalan hidup.

Film ini bertanya: Apa yang akan Anda lakukan—apa yang bisa Anda lakukan—jika Anda diberi kesempatan untuk memutar balik waktu?

Tentu saja, tentu saja—kita semua akan berusaha memperbaiki kesalahan masa lalu. Untuk ‘memperbaiki’ masa lalu. Untuk menetapkan prasyarat ideal bagi masa kini dan masa depan yang lebih bahagia.

Inilah yang So, sang protagonis film, coba lakukan dalam film ini—bernegosiasi dengan Waktu itu sendiri, dalam permohonan putus asa untuk menyelamatkan suaminya, Jonathan, dan akhirnya pernikahan mereka, dari akhir yang tragis.

Namun kemudian, film ini diam-diam membuat kita berpikir:
Apakah keputusasaan ini merupakan bentuk cinta, atau sekadar duka yang membabi buta?

Seiring berjalannya cerita, terungkaplah kebenaran yang menyakitkan: perjalanan waktu saja tidak cukup. Rasanya tak pernah cukup. Bahkan kekuatan untuk membengkokkan hukum fisika kosmik itu sendiri tak cukup untuk mengubah takdir diri sendiri—apalagi takdir orang lain.

Dalam balada Glen Fredly, Sekali Ini Saja, sang protagonis memohon kepada Sang Pencipta untuk memutar balik waktu sekali saja—sekali lagi—agar ia dapat merasakan kebahagiaan sekali lagi bersama orang yang dicintainya.

Dalam So, sang protagonis menemukan cara untuk memutar balik waktu—hanya untuk menemukan dengan cara yang sulit bahwa kekuatan tersebut pada akhirnya—tak berguna. Dan usahanya pada akhirnya—sia-sia.

“Sekalipun aku menjalani sepuluh ribu kehidupan, aku akan selalu memilihmu,” katanya dalam film tersebut.

Namun setelah apa yang terasa seperti sepuluh ribu pengulangan, ia akhirnya menyadari bahwa waktu, terlepas dari betapa acuhnya ia, pada akhirnya ada untuk mengajarimu. Ia pada akhirnya ada untuk mengubahmu. Dan seseorang harus berserah pada kebijaksanaannya, membiarkannya mengubahmu—membiarkan waktu mengubahmu—alih-alih melawannya.

Apakah Anda menyesal? Atau momen-momen dalam hidup Anda yang Anda harap tak pernah terjadi? Tanyakan pada diri sendiri: jika Anda punya kesempatan untuk memutar kembali waktu, apakah itu akan menghapus penyesalan — atau justru membuat Anda menghidupkannya kembali?

Karena mesin waktu belum ditemukan, kita tak akan pernah benar-benar tahu jawabannya.

Jangan lupa untuk selalu cek Film terbaru kami di REBAHIN.