kantorbolakantorbolakantorbolakantorbolakantorbola77kantorbola77kantorbola77kantorbola88kantorbola88kantorbola88kantorbola99kantorbola99kantorbola99

Eleanor the Great (2025) 6.710

6.710
Trailer

Nonton Film Eleanor the Great (2025) Sub Indo | REBAHIN

Nonton Film Eleanor the Great (2025) – Siapa di antara kita yang belum pernah mencoba menampilkan diri sebagai sosok yang sedikit lebih hebat daripada kenyataannya? Dalam film garapan Scarlett Johansson, *Eleanor the Great*, satu kebohongan fatal memicu kesalahpahaman besar yang kemudian lepas kendali dari si penutur cerita.

Saat pertama kali bertemu Eleanor Morgenstein (June Squibb), ia dan sahabat lamanya, Bessie (Rita Zohar), sedang menjalani kehidupan ala serial *Golden Girls* di Florida—berbagi cerita di meja dapur, berolahraga di pantai, dan menegur anak-anak muda yang malas serta kurang ajar. Namun, ketika Bessie meninggal dunia, Eleanor memutuskan untuk pindah kembali ke New York bersama putrinya, Lisa (Jessica Hecht), dan cucunya, Max (Will Price)—keduanya tidak memiliki banyak waktu untuknya. Setelah dengan enggan ditinggal sendirian di pusat komunitas Yahudi (JCC) setempat, ia tak sengaja masuk ke dalam pertemuan para penyintas Holocaust dan dikira sebagai salah satu dari mereka.

Alih-alih segera meluruskan keadaan, ia justru menceritakan kisah hidup Bessie seolah-olah itu adalah kisahnya sendiri. Hal ini menarik perhatian seorang pengamat muda bernama Nina (Erin Kellyman), mahasiswi jurnalisme yang sedang berjuang menghadapi duka atas kematian ibunya dan tumbuh dalam bayang-bayang ayahnya yang merupakan penyiar berita terkenal (Chiwetel Ejiofor). Dalam upayanya menggali kisah Eleanor, Nina menjalin persahabatan dengan sosok yang memiliki kepribadian sulit ini, dan sembari melakukannya, ia belajar untuk memproses rasa kehilangannya sendiri. Namun, seiring Eleanor terus menceritakan kisah Bessie, semakin banyak orang yang mendengarnya, dan ia pun semakin terjebak dalam kebohongannya sendiri.

Debut film panjang Scarlett Johansson ini sungguh mengejutkan. Ini adalah kisah yang rumit dengan dilema moral yang tidak nyaman serta karakter utama yang tidak selalu mudah disukai. Meskipun Squibb tampil memikat dalam peran tersebut, Eleanor adalah sosok yang “meledak-ledak”—tipe orang yang bisa melukai siapa pun yang terlalu dekat dengannya. Ia bersikap sangat keras terhadap putrinya, kerap menyindir dan mempermalukannya di hadapan sang cucu, Max—sosok yang justru diperlakukan jauh lebih lembut oleh Eleanor. Ia juga tidak segan melontarkan kebohongan-kebohongan kecil, yang menjadi awal mula dari segala kekacauan berikutnya. Awalnya, Eleanor menunjukkan sikap keras yang sama terhadap Nina, namun untungnya, Nina tidak mudah diusir begitu saja. Dalam artian tertentu, Eleanor adalah karakter yang sedang berkonflik dengan dirinya sendiri. Meski demikian, rasa kesepian mendorongnya untuk mencoba diterima dalam kelompok penyintas yang sebenarnya bukan bagian dari dirinya, dan pada akhirnya, mewujudkan keinginan Nina untuk membagikan kisahnya.

Tory Kamen, yang juga memulai debutnya sebagai penulis naskah film panjang, menavigasi wilayah etika yang abu-abu sepanjang perjalanan Eleanor dan terlalu cepat membebaskannya dari rasa sakit akibat kebohongan yang ia perbuat. Premis ini menghadirkan dilema pelik dengan pertanyaan sulit: Apakah kesepian Eleanor membenarkan rasa sakit yang secara tidak sengaja ia timbulkan? Sosoknya sulit untuk dimaafkan, terutama karena ia mengaku-ngaku sebagai korban genosida. Kamen tidak sepenuhnya berhasil menyeimbangkan penggambaran temperamen dan motif Eleanor, ataupun menjawab apakah tokoh utamanya menyadari kesombongan yang mendorongnya mengklaim kisah temannya sebagai miliknya sendiri. Rasa duka menjadi alasan di balik perilaku buruknya, namun cerita ini tidak menggali hal tersebut lebih dalam lagi.

Walau begitu, film ini tetap memiliki momen-momen yang memikat. Johansson dan sinematografer Hélène Louvart (“La Chimera”) memberikan sorotan penuh kepada Squibb, dan ia membawakannya dengan gemilang. Ada banyak pengambilan gambar jarak dekat (close-up) yang memberikan ruang dan waktu bagi sang aktris untuk mendalami konflik karakternya—menangkap senyum malunya, kegembiraan nakal saat ucapannya yang tajam tepat mengenai sasaran, serta raut wajah panik saat menyadari bahwa kisah curiannya telah tersebar luas. Tentu saja, Squibb adalah bintang utama “Eleanor the Great,” namun *chemistry*-nya dengan lawan main yang lebih muda, Kellyman, memberikan sentuhan istimewa pada film ini. Momen-momen hangat saat mereka membahas rasa duka dan pergi menikmati suasana kota jauh lebih memuaskan dibandingkan kepura-puraan yang awalnya mempertemukan mereka. Dari segi akting, Kellyman tampil memukau; ia mampu memikul beban kehilangan mendalam yang dialami karakternya serta tekanan untuk menjaga kehidupan tetap terasa normal, sekaligus menjadi lawan main yang tulus dan sepadan bagi karakter Squibb untuk mulai terbuka dan menikmati persahabatan tersebut.

Jika Johansson terus berani mengangkat karakter-karakter kompleks seperti yang ia lakukan dalam “Eleanor the Great,” maka diharapkan ia akan menggarap lebih banyak lagi kisah menarik serta menampilkan aktor-aktor yang selama ini kurang mendapat sorotan. Perannya bersama Squibb menghadirkan salah satu tantangan akting terbesar bagi sang aktris: memerankan sosok antihero berusia sembilan puluhan yang berkarakter tangguh, namun karena kesepian, ia nekat melontarkan kebohongan yang sulit dimaafkan. Film ini menghadapi kendala serupa dengan yang membuat “Jojo Rabbit” menuai perdebatan—sebuah komedi yang mengangkat topik serius namun gagal mengeksekusinya dengan mulus, sehingga justru semakin menonjolkan kelemahan-kelemahannya. Meski “Eleanor the Great” tidak sepenuhnya berhasil mengatasi masalah moral yang menjadi inti ceritanya, penampilan Squibb yang penuh semangat menjadikannya film yang berkesan.

Jangan lupa untuk selalu cek Film terbaru kami di REBAHIN.