Hal ini relevan dengan kondisi di sekitar kita, di mana tetangga kerap mencampuri urusan pribadi atas nama kepedulian. Tak sampai situ, film ini juga menyoroti beban gender yang tidak adil, terutama pada Murni yang dipandang sebagai pihak yang “gagal” karena belum hamil.
Namun uniknya, isu gender dan tekanan sosial ini disampaikan dengan humor jenaka yang membuat kita tertawa, sambil merenungi dampak perbuatan kita kepada orang lain.
Film ini menghidupkan nuansa Solo melalui syuting di lokasi-lokasi sarat budaya, seperti Kampung Batik Laweyan, Lokananta, hingga Colomadu. Sepanjang film, kita dapat melihat keindahan budaya lokal di mana salah satunya adalah tradisi membuat jamu.
Lebih dari 80 persen dialog menggunakan Jawa Mataraman (Solo), yang menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian aktor. Namun, hal itulah yang membuat film ini terasa asli, membawa kita lebih dekat dengan cerita bahkan seolah ikut ke dalam komunitas tersebut.