Nonton Film Stairway to Heaven (2023) Sub Indo | REBAHIN
Nonton Film Stairway to Heaven – Memang mungkin untuk menjelajah waktu. Bukan melalui portal, melainkan melalui ingatan. Sesuatu yang sepele seperti sepeda dapat membawa kita kembali ke masa lalu yang bahagia dan riang. Begitulah halnya bagi Uu (Mait Malmsten), yang teringat masa-masa bahagia dalam hidupnya ketika ia mengunjungi Georg yang sedang sakit, mentor masa kecilnya, yang memintanya untuk mencoba bersepeda lagi.
Tiba-tiba, ia terbawa kembali ke masa mudanya, masa ketika ia terkesima melihat model-model telanjang yang dilukis Georg (yang bagi seorang remaja lebih nikmat daripada sebatang cokelat), dan menikmati keindahan sepak bola. Ia menari mengikuti alunan musik rock pada masa itu (soundtrack-nya hampir menjadi ciri khasnya sendiri), dan menikmati persahabatan yang ia harap dapat bertahan selamanya. Namun Uu yang lebih tua sedang mengalami tekanan pribadi: pekerjaan dan hubungan asmaranya menyakitinya, dengan cara yang tak pernah bisa dilakukan oleh usaha-usaha masa mudanya. Namun dengan tetap setia pada cita-citanya di masa muda, ia berharap untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih puas, meskipun sulit untuk melewati masa lalu. Ia diberi tahu bahwa ada terlalu banyak hal yang seperti itu.
Anehnya, film ini mengingatkan kita pada kerinduan dalam The Godfather Part II (1974) karya Francis Ford Coppola, tetapi dialognya kali ini bukan antara seorang ayah dan putranya, melainkan seorang pria yang lebih tua dan dirinya yang lebih muda. Dalam hal itu, film ini kurang menggoda dibandingkan risalah Coppola, tetapi bisa dibilang merupakan karya yang lebih universal. Stairway To Heaven dipenuhi penyesalan; hantu dapat ditemukan di mana-mana. Uu melihat banyak hal dalam dirinya pada Georg yang sedang sakit, menyadari betul bahwa ia juga harus menghadapi Yang Mahakuasa. Namun hingga hal itu terjadi, ia dapat menikmati kebaikan dari ‘Smoke On The Water’ dari Deep Purple dan ‘Livin’ Thing’ dari Electric Light Orchestra, baik untuk kegembiraan yang dibawanya di masa lalu, maupun kebahagiaan yang diberikannya saat ini.
Dalam salah satu momen film yang lebih lucu, Uu muda (diperankan dengan kecerdasan tajam oleh Timotheus Sammul) diberi tahu bahwa The Beatles pasti telah bersatu kembali; suara-suara di ELO terdengar sangat “Lennon”. Saat ia menginjak dewasa, kepolosan ini telah tergantikan oleh etos kerja yang perlahan menggerogoti jiwanya. Ia menjadi sosok yang jauh lebih kesepian di usianya yang lebih tua, tetapi itu tidak menghentikannya untuk mengembangkan dirinya sendiri. Memang, film ini dengan sangat baik menekankan bahwa kita tidak pernah berhenti berkembang sebagai individu, meskipun kita merasa seperti berada di persimpangan. Pekerjaan memengaruhi kehidupan rumah tangga, kehidupan kerja, dan kehidupan sosial Uu, tetapi ia selalu memiliki musik rock untuk membawanya kembali ke masa muda yang lebih jantan. Jika waktu adalah ilusi, maka ingatan adalah kunci keselamatan, yang berpindah dari satu titik ke titik lain sepenuhnya. Namun, sebagaimana adanya, waktu membuat kita terus maju dan terus maju.
Stairway to Heaven bukannya tanpa ketidaksempurnaan. Beberapa pemeran pendukung – terutama Harriet Toompere – terasa seperti mereka direkrut berdasarkan penampilan, bukan keterampilan. Lalu, ada pula masalah pengambilan gambar gerak lambat, yang kurang memperkuat cerita, malah justru mengalihkan perhatian. Kisahnya solid, lokasi syutingnya luar biasa, dan aransemen lagunya (yang juga menampilkan Slade) sangat memukau.
Stairway to Heaven baru saja tayang perdana di Kompetisi Baltik Festival Film Tallinn Black Nights ke-27.























