kantorbolakantorbolakantorbolakantorbolakantorbola77kantorbola77kantorbola77kantorbola88kantorbola88kantorbola88kantorbola99kantorbola99kantorbola99

Aida, the Movie (2026) 6.010

6.010
Trailer

Nonton Film Aida, the Movie (2026) Sub Indo | REBAHIN

Nonton Film Aida, the Movie (2026) – 

Hal yang paling mengkhawatirkan saya terkait globalisasi media televisi yang sedang berlangsung—serta ketakutan akan dominasi raksasa *streaming* atas layar domestik melalui konten yang didikte oleh metrik—adalah keniscayaan penyeragaman pengalaman menonton: hilangnya keunikan budaya, serta pudarnya nuansa representasi, kekhasan identitas, dan sisi eksentrik. Pada dasarnya, ada kemungkinan kita semua tidak akan menonton tayangan yang sama persis, melainkan tayangan dengan jenis yang serupa; bahkan saat ini, frasa “Serial Netflix” sudah memiliki konotasi yang langsung kita kenali. Saat ini, akibat membengkaknya anggaran, mustahil memproduksi “drama berkualitas” Eropa tanpa kolaborasi beberapa produser. Kepentingan yang terlibat sering kali bersifat internasional, sehingga tayangan yang dihasilkan disesuaikan dengan selera arus utama lintas benua. Sebaliknya, genre yang selalu luput dari homogenisasi adalah sinetron dan komedi; setiap kali bepergian, saya selalu menyimak saluran lokal dan mencari sinetron serta sitkom (ya, saya memang sosok yang sangat asyik diajak liburan) sebagai barometer budaya. Tidak ada media lain yang memberikan gambaran begitu jelas mengenai representasi nasional—bagaimana masyarakat menikmati cerminan diri mereka dan hal-hal apa yang mereka anggap jenaka.

Namun, konsekuensi dari perbedaan genre ini adalah tayangan-tayangan tersebut terbatas pada lingkup lokal yang sempit. Berbeda dengan gaya *chiaroscuro* yang menjadi ciri khas *Scandi-Noir* atau cakupan fiksi ilmiah yang luas dalam serial *Dark*, komedi dan sinetron sulit menembus pasar internasional karena terlalu terikat pada konteks sosial masyarakat setempat. Sebelum menonton *Aida, the Movie*—sebuah komedi meta karya Paco León (dengan naskah yang ditulis bersama Fer Pérez) yang berkisah tentang proses pembuatan episode dari sitkom *Aida* (yang sebenarnya sudah tamat)—saya sempat menonton beberapa episode serial Spanyol tersebut sebagai riset. Terus terang, tayangan itu tidak cocok bagi saya. Masalahnya bukan sekadar kendala bahasa (saya memang menguasai sedikit bahasa Spanyol), melainkan hiperbola situasi yang terasa asing serta unsur vulgaritas yang kasar. Namun, siapa saya berani menilai? Wikipedia mencatat bahwa *Aida* adalah “tayangan yang paling banyak ditonton di Spanyol sejak tahun 2007 hingga masa penayangannya berakhir, [dan] juga meraih sejumlah penghargaan, termasuk Penghargaan Ondas untuk Sitkom Spanyol Terbaik.” Penonton domestik jelas bisa menerima tema-tema dewasa serta representasi sosok-sosok yang dianggap sebagai “liyan” (pihak luar) dalam hal seksualitas—seperti kaum gay, pekerja seks, dan pecandu narkoba. Entah mengapa, hal ini mengingatkan saya pada *Mrs Brown’s Boys*, sebuah tayangan komedi bergaya pantomim yang penuh kelakar nakal, di mana semua orang menjadi sasaran ejekan yang sebenarnya dilandasi rasa hangat dan akrab.

Di dunia nyata, serial *Aida* berakhir pada tahun 2014 setelah berjalan selama 10 musim (meskipun karakter utamanya diceritakan keluar pada musim keenam—sama seperti nasib karakter di serial *Friends*). Premis *Aida, the Movie* adalah bahwa serial tersebut sebenarnya tidak pernah berakhir dan Carmen Machi tidak pernah keluar; para pemain serta kru kini berkumpul kembali untuk satu pertunjukan terakhir. Dengan pendekatan meta yang mirip dengan tayangan ITV *Moving Wallpaper* dan *Echo Beach*—dua serial ambisius yang sayangnya kini terlupakan—kita diajak melihat suasana di balik layar saat para pemain melakukan pembacaan naskah, latihan, dan terlibat dalam pertengkaran-pertengkaran sepele yang lumrah terjadi di tempat kerja, sembari menyaksikan cuplikan adegan dari produksi akhirnya. Selain itu, kita juga mengikuti kehidupan sehari-hari para pemain saat mereka menghadapi pasang surut ketenaran.

*Aida, the Movie* berlatar waktu tahun 2018, masa sebelum pandemi Covid dan tepat sebelum dominasi layanan *streaming* mengubah total kebiasaan menonton masyarakat. Film ini juga berlatar di era #MeToo dan masa awal munculnya *cancel culture* (budaya boikot); narasi film ini secara eksplisit membahas sekaligus menyindir gerakan-gerakan tersebut dengan gaya jenaka (salah satu hal menarik dari film ini adalah komitmennya untuk menertawakan siapa saja tanpa pandang bulu, mirip dengan gaya *South Park*).

Sebagai contoh, alur cerita episode yang sedang digarap menampilkan seorang pria bertubuh sangat pendek yang juga mengidap hipertrikosis. Naskah menyebutnya sebagai “Ewok” dan “orang hasil perkawinan sedarah yang pantas dilempari kacang.” Beberapa pemain merasa tidak nyaman dengan sebutan-sebutan itu, namun drama sesungguhnya muncul ketika salah satu pemain melakukan kesalahan fatal saat membahas pria tersebut dalam sebuah wawancara majalah; berita itu menjadi viral dan berujung pada pemboikotan dirinya (*cancelation*), yang semakin menambah tekanan berat dalam proses produksi. Terlebih lagi, ternyata si “Ewok” itu sendiri adalah sosok yang berperilaku tidak senonoh—kebalikan dari sosok Gregg Wallace—dan membuat para pemain wanita merasa risih.

Jangan lupa untuk selalu cek Film terbaru kami di REBAHIN.